Translate

Kamis, 28 Maret 2013

Daftar Obat Generik

NAMA GOLONGAN/ KELAS TERAPI NO OBAT GENERIK Analgesik, Antipiretik, Antiinflamasi nonsteroid, Antipirai 1 Acetosal 2 Allopurinol 3 As. Mefenamat 4 Fentanil 5 Ibuprofen 6 Ketoprofen 7 Ketorolak 8 Kolkisin 9 Meloksikam 10 Morfin 11 Na Diklofenak 12 Parasetamol 13 Pethidin 14 Piroksikam 15 Tramadol Anastetik� Antialergi dan Obat untuk Anafilaksis 16 Cetrizin 17 Deksametason 18 Dipenhidramin 19 Epinefrin 20 Klorpheniramin 21 Loratadin Antidot dan Obat lain untuk Keracunan 22 Kalsium Glukonat 23 Mg Sulfat 24 Na Bikarbonat 25 Nalokson 26 Protamin Sulfat� Antiepilepsi – Antikonvulsi 27 As. Valproat 28 Diazepam 29 Fenitoin 30 Karbamazepin 31 Phenobarbital Anti Infeksi 32 Asiklovir 33 Amikasin 34 Amoksisilin 35 Ampisilin 36 Benzipenisilin� 37 Ciprofloksasin 38 Dapson 39 Dikloksasilin 40 Doksisiklin 41 Efavirens 42 Eritromisin 43 Ethambutol 44 Fenoksimetilpenisilin 45 Flukonazol 46 Gentamisin� 47 Griseofulvin 48 INH 49 Ketokonazol 50 Klindamisin 51 Kloramfenikol (Thiampenikol) 52 Klorokuin 53 Kotrimoksazol 54 Kuinin 55 Lamivudin 56 Levofloksasin 57 Metronidazol 58 Nevirapine 59 Nistatin 60 Pirantel 61 Pirazinamid 62 Primakuin 63 Rifampisin 64 Sefadroksil 65 Sefiksim 66 Sefotaksim 67 Seftazidim 68 Seftriakson 69 Stavudin 70 Streptomisin 71 Sulfasalazin 72 Tetrasiklin Antimigrain 73 Ergotamin Antineoplastik, Imunosupresan dan obat untuk terapi paliatik 74 Asparaginase 75 Azatrioprin 76 Bleomisin 77 Cisplatin 78 Dakarbasin 79 Doksorubisin 80 Etoposid 81 Fluoro urasil 82 Hidroksil urea 83 Medroksiprogesteronasetat 84 Metotreksat 85 Siklofosfamid 86 Siklosforin 87 Sitarabin 88 Tamoksifen 89 Testosteron 90 Vinblastin 91 Vinkristin Antiparkinson 92 Levodopa + Karbidopa 93 Triheksifenidil Obat yang mempengaruhi darah 94 Fe Sulfat 95 Fitomenadion 96 Heparin 97 Warfarin 98 Traneksamat Produk Darah Diagnostik Disinfektan & Antiseptik Gigi & Mulut 99 Povidon iodin Diuretik 100 Furosemida 101 HCT 102 Manitol 103 Spironolakton Hormon, Obat endokrin lain dan Kontraseptik Kardiovaskuler Kulit, Obat Topikal Larutan Dialisis Peritoneal Larutan Elektrolit Obat Mata Oksitoksik dan Relaksan Uterus Psikofarmaka 104 Acarbose 105 Etinil Estradiol 106 Glibenklamid 107 Gliklazid 108 Glikuidon 109 Glimepirid 110 Glipizid 111 Hidrokortison 112 Insulin 113 Levonorgestrel 114 Metformin 115 Metil Prednisolon 116 Pioglitazon 117 Prednison 118 Repaglinid 119 Rosiglitazon 120 Amlodipin 121 Atropin 122 Carvedilol 123 Digoksin 124 Dobutamin 125 Dopamin 126 ISDN 127 KCL 128 Klonidin 129 Lisinopril 130 Metildopa 131 Nifedipin 132 Nitrogliserin 133 Propanolol 134 Ramipril 135 Simvastatin 136 Streptokinase 137 Terazosin 138 Valsartan 139 Verapamil 140 Asam Retinoat 141 Basitrasin – Polimiksin B 142 Betametason 143 Mikonazol 144 Na Fusidat 145 Asetazolamid 146 Pilokarpin 147 Sulfacetamid 148 Timolol 149 Isoksuprin 150 Metil Ergometrin 151 Oksitosin 152 Alprazolam 153 Amitriptilin 154 CPZ 155 Flufenasin 156 Fluoksetin 157 Haloperidol 158 Quetiapin 159 Risperidon Relaksan Otot Perifer dan Penghambat Kolinesterase 160 Pankuronium 161 Neostigmin 162 Piridostigmin 163 Suksametonium 164 Vekuronium Saluran Cerna� 165 Antasida 166 Bisakodil 167 Cimetidin 168 Dimenhidrinat 169 Domperidon 170 Lansoprazol 171 Loperamid 172 Metoklopramid 173 Neomisin� 174 Omeprazol 175 Ranitidin 176 Sukralfat Saluran Napas� 177 Ambroksol 178 Aminophilin 179 Asetil Sistein 180 Bromheksin 181 Budesonid 182 DMP 183 GG 184 Ipatropium 185 Ketotifen 186 Salbutamol 187 Terbutalin Obat yang mempengaruhi sistim imun 188 Hepatitis B rekombinan 189 Serum Antibisa ular 190 Serum Antidifteri 191 Serum Antirabies 192 Serum Antitetanus 193 Serum Imunoglobulin 194 Vaksin BCG 195 Vaksin Campak 196 Vaksin DTP 197 Vaksin jerap difteri tetanus 198 Vaksin meningokokus polisakarida A + C 199 Vaksin polio 200 Vaksin Rabies Telinga, Hidung dan Tenggorokan 201 Oksimetazolin Vitamin dan Mineral 202 Vitamin B6 203 Vitamin C

Obat generik

Obat generik Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Wikifikasi Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini. Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampilkan] di bagian kanan.[tampilkan] Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya. Dalam obat generik bermerek, kandungan zat aktif itu diberi nama (merek). Zat aktif amoxicillin misalnya, oleh pabrik ”A” diberi merek ”inemicillin”, sedangkan pabrik ”B” memberi nama ”gatoticilin” dan seterusnya, sesuai keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek tersebut, bahannya sama: amoxicillin. Daftar isi 1 Zat aktif 2 Mutu 3 Obat Generik Berlogo 4 Referensi Zat aktif Dari sisi zat aktifnya (komponen utama obat) , antara obat generik (baik berlogo maupun bermerek dagang), persis sama dengan obat paten. Namun Obat generik lebih murah dibanding obat yang dipatenkan. Mutu Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. Ibarat sebuah baju, fungsi dasarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara dingin. Hanya saja, modelnya beraneka ragam. Begitu pula dengan obat. Generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal. Obat Generik Berlogo Obat Generik Berlogo (OGB) merupakan program Pemerintah Indonesia yang diluncurkan pada 1989 dengan tujuan memberikan alternatif obat bagi masyarakat, yang dengan kualitas terjamin, harga terjangkau, serta ketersediaan obat yang cukup. Tujuan OGB diluncurkan untuk memberikan alternatif obat yang terjangkau dan berkualitas kepada masyarakat. Soal mutu, sudah tentu sesuai standar yang telah ditetapkan karena diawasi secara ketat oleh Pemerintah. Hanya bedanya dengan obat bermerek lain adalah OGB ini tidak ada biaya promosi, sehingga harganya sangat terjangkau dan mudah didapatkan masyarakat. Awalnya, OGB diproduksi hanya oleh beberapa industri farmasi BUMN. Ketika OGB pertama kali diluncurkan, Departemen Kesehatan RI gencar melakukan sosialisasi OGB sampai ke desa-desa. Saat ini program sosialisasi ini masih berjalan walaupun tidak segencar seperti pada awal kelahiran OGB. Pada awalnya, produk OGB ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan obat institusi kesehatan pemerintah dan kemudian berkembang ke sektor swasta karena adanya permintaan dari masyarakat. OGB mudah dikenali dari logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di bagian tengah lingkaran. Logo tersebut menunjukan bahwa OGB telah lulus uji kualitas, khasiat dan keamanan sedangkan garis-garis putih menunjukkan OGB dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat(css/copotsanasini.com)

Selasa, 26 Maret 2013

sejarah magnesium

Magnesium: informasi sejarah Magnesium ditemukan oleh Sir Humphrey Davy 1755 di Inggris. Asal nama: dari bahasa Yunani kata \"Magnesia\", distrik Thessalia. Pada tahun 1618 seorang petani di Epsom di Inggris berusaha untuk memberikan dia sapi air dari sumur. Ini mereka menolak untuk minum karena rasa pahit air. Namun petani memperhatikan bahwa air tampaknya menyembuhkan goresan dan ruam. Ketenaran dari garam Epsom menyebar. Akhirnya mereka diakui untuk menjadi magnesium sulfat, MgSO4.

Jumat, 22 Maret 2013

Rabu, 20 Maret 2013

batle field 2


daging pencetus kanker


Cukup besarnya angka variasi dari tingkat penyebab kanker menurut kajian para pekerja migran menyimpulkan bahwa faktor lingkungan seperti cara makan berkaitan dengan risiko kanker. Konsumsi daging, seperti sapi, mempunyai 3 jenis variasi di seluruh dunia – dengan angka konsumsi yang tertinggi di negara maju (23 kg/penduduk) dibandingkan dengan negara yang kurang berkembang (6 kg/penduduk) [1] Berdasarkan karya Richard Doll dan Richard Peto pada tahun 1981 diperkirakan bahwa sekitar 35% (sekitar 10% - 70%) penyakit kanker dapat dikaitkan dengan cara makan, sama besarnya dengan akibat rokok terhadap kanker (30%, berkisar 25% - 40%) [2].
Konsumsi daging berkaitan dengan risiko kanker dan hal ini telah dilaporkan oleh lebih dari seratus kajian epidemiologikal di berbagai negara dengan cara makan yang bervariasi. Keterkaitan antara konsumsi daging dan risiko kanker telah dikaji dengan melihat kedua-duanya, yaitu kelompok luas yang mengonsumsi daging, dan juga kategori yang lebih baik, khususnya konsumsi daging merah, termasuk sapi, domba, babi, dan daging anak lembu, serta khususnya daging proses atau daging yang diawetkan melalui penggaraman, pengasapan, atau pengawetan.
Meskipun hubungan kanker dengan konsumsi daging dapat saja dijelaskan karena pola makan yang berenergi atau berkandungan lemak tinggi (“kebaratan”), hal itu juga mempunyai pengaruh langsung dari unsur karsinogenik yang ditemukan dalam daging, termasuk unsur N-nitroso, heterosiklik amino, atau polisiklik aromatik hidrokarbon. Unsur N-nitroso mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan karsinogen dalam daging  [3] termasuk nitrosamino yang memerlukan aktivasi metabolis untuk dikonversi menjadi bentuk karsinogenik dan nitrosamida yang tidak membutuhkan aktivasi. Sama halnya, heterosiklik amino diklasifikasikan sebagai mutagen dan karsinogen hewan [4–8]. Unsur-unsur ini dan yang lainnya di dalam daging (garam, nitrat, nitrit, zat besi, lemak jenuh, estradiol) telah didefinisikan sebagai peningkat sintetis DNA dan perkembangbiakan sel, meningkatkan insulin - seperti faktor-faktor pertumbuhan, mempengaruhi metabolisme hormon, mempengaruhi kerusakan radikal bebas, dan meningkatkan kasinogenik heterosiklik amino [9–16], yang semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan kanker.
Artikel Penelitian yang Terkait:
Artikel Penelitian Terjemahan yang membahas kasus baru berikut ini dipublikasikan di PloS Medicine:
Cross AJ, Leitzmann MF, Gail MH, Hollenbeck AR, Schatzkin A, et al. (2007) Suatu studi propektif atas konsumsi daging merah dan daging proses berkaitan dengan risiko kanker. PLoS Med 4(12): e325. doi:10.1371/journal.pmed.0040325
Dengan menggunakan data dari Amanda Cross dan koleganya, sebuah studi kelompok besar telah menemukan bahwa baik konsumsi daging merah dan daging proses berkaitan erat dengan kanker usus besar (colorectum) dan paru-paru.
Kanker Usus Besar
Studi paling menghebohkan yang berkaitan dengan konsumsi daging adalah kanker usus besar. Dalam studi ekologikal, hubungan antara konsumsi daging per kapita secara internasional dengan tingkat kanker usus (r > 0.85) dan tingkat kematian (r > 0.70) cukup tinggi. Sama halnya, meningkatnya risiko kanker usus besar berkaitan dengan konsumsi daging merah dan daging proses telah diteliti dalam studi kelompok dan pengendalian kasus. Sebuah kajian tahun 1997 yang berkaitan dengan hal ini yang disponsori oleh Dana Penelitian Kanker Dunia dan Institut Penelitian Kanker Amerika menyimpulkan bahwa konsumsi daging merah kemungkinan meningkatkan risiko kanker usus besar, sedangkan daging proses mungkin meningkatkan risiko kanker usus besar [19]. Konsensus yang sama juga dilaporkan oleh Panel Kanker Usus dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[20] dan Kelompok Kerja Diet dan Kanker pada Komite Obat dari Kebijakan Nutrisi dan Makanan  [21].  Dalam meta-analisa kanker usus besar baru-baru ini, termasuk studi yang dipublikasikan hingga tahun 2005 [22–24],  ringkasan terkait menyimpulkan bahwa konsumsi daging merah meningkatkan risiko 28%–35%, sedangkan daging yand diproses meningkatkan risiko dari 20%–49%.
Kanker Jenis Lain
Sebagai tambahan, sejumlah besar studi telah menguji keterkaitan antara konsumsi daging dan risiko kanker perut. Dalam sebuah meta-analisa baru-baru ini, meskipun hasilnya berasal dari kasus pengendalian berbanding kasus kelompok yang cukup beragam [25]. Sedikit studi yang kurang konsisten telah dilaporkan terhadap kanker kandung kemih [26,27], kanker payudara [28,29], endometrium [30], glioma [31], pankreas [32–34], prostat [35], dan sel ginjal [36]. Hanya ada sedikit kajian yang berkaitan antara konsumsi daging dengan kanker paru-paru [37,38], kerongkongan [39], rongga mulut [40,41], peranakan [42–44], mulut kelamin [45], dan hati [41]. Kebanyakan studi yang ada menguji tempat-tempat tersebut secara kasus per kasus, dan beberapa studi terdahulu kurang ada penyesuaian terhadap konsumsi energi atau indeks masa tubuh, dua kunci utama penentu.
Sebuah Studi Baru tentang Berbagai Tempat Kanker
Dalam penerbitan PLoS Medicine, Amanda Cross dan rekan-rekannya mengemukakan penemuan mereka dari sebuah kajian kelompok yang berprospektif besar terhadap konsumsi daging merah dan daging proses di berbagai tempat [46]. Analisa mereka berdasarkan propektif Institut Kesehatan Nasional (NIH)-AARP (yang sebelumnya dikenal sebagai Pensiunan Asosiasi Amerika) Studi Diet dan Kesehatan yang mencakup hampir 500.000 laki-laki dan wanita di Amerika Serikat yang diantaranya ada lebih dari 53.000 kasus kanker.
Untuk kanker usus besar, risiko kenaikan 24% berkaitan dengan konsumsi daging merah sebanyak 62,5 g/1.000 kcal dan risiko kenaikan 20% berkaitan dengan konsumsi daging proses sebanyak 22,6 g/1.000 kcal ditemukan di antara laki-laki dan wanita yang relatif sama dengan ringkasan risiko relatif pengamatan dalam meta-analisa sebelumnya [22–24].  Para peneliti juga menemukan kenaikan konsumsi daging merah yang sangat berpengaruh dengan naiknya risiko peningkatan 20% - 60% untuk kanker kerongkongan, hati, dan paru-paru. Untuk daging proses, terjadi risiko kenaikan 16% kanker paru-paru yang diamati. Daging merah dan daging proses berkaitan dengan naiknya risiko kanker pankreas pada laki-laki saja.
Hasil penemuan dari  Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP menegaskan penemuan-penemuan sebelumnya dari kanker usus besar. Namun demikian, sebuah persamaan positif dengan kanker perut banyak terlihat dalam pengawasan kasus per kasus yang dilakukan terdahulu yang tidak ditemukan dalam  Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP. Risiko relatif untuk kanker perut secara primer dinyatakan nihil dalam studi bersama yang dilakukan terdahulu dibandingkan dengan studi kasus per kasus, dan dengan demikian hasil kajian Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP tentang kanker perut konsisten dengan studi bersama yang dilakukan bersama sebelumnya.